Pada Umur Tiga Puluh Lima

26 Jun

11 malam, 6 Jun 2002

.

Shasha benar-benar merasa jengkel melihat  laki-laki yang sedang enak duduk merokok di depannya saat itu. Dia dari tadi cuma asyik tersenyum. Entah, mengapa kali ini dia merasa benar-benar benci melihat senyuman seseorang. Tidak biasanya dia begitu. Menghadapi laki-laki yang seorang ini, pertahanannya terasa cukup mudah tergoyah. Namun, Firdaus, laki-laki yang dimaksudkan, tetap dengan sikap acuh tak acuhnya. Bicara lepas bebas, menyakitkan hati. Macamlah dunia ini milik datuknya...

“Lelaki Brunei ini bodoh-bodoh semua,” singkat ucapan Shasha, dengan perasaan geram. Ucapan itulah yang membuat Firdaus benar-benar tidak mampu untuk menahan senyumannya tadi. Bukan hanya senyum, malah dia juga pada Shasha kedengaran seperti tertawa kecil. Mentertawakan komentar Shasha sebentar tadi. Tertawa mengejek. Dan renungan matanya, tajam, tepat ke anak-mata Shasha, membuatkan gadis itu tertunduk malu. Sungguh, matamu seperti mata helang yang sentiasa siap untuk menyambar mangsanya!

“Jadi, hanya kerana tidak ada orang Brunei yang berminat untuk memperisterikan perempuan-perempuan seperti kamu, maka menurutmu, mereka layak dianggap bodoh. Begitu?” Firdaus meminta penjelasan. Dan senyum menjengkelkan itu tetap  tersungging di bibirnya. Cukup untuk memancing kemarahan Shasha.

“Ya, memang,” singkat jawabnya. “Habis harus dibilang apa kalau bukan bodoh namanya itu?” Tambahnya lagi, tak lama kemudian, dengan pertanyaan juga. Nampak sekali marahnya, hinggakan wajah putihnya berona merah. Wajah yang putih mulus, dan terpelihara dari salutan alat-solek yang  tebal. Tidak seperti wajah Nora yang sedang duduk diam di sebelahnya. Tebal semacam, seperti pelakun opera Cina saja lagaknya… Tapi, biarpun solekan Shasha nipis dan bersahaja, namun ianya lebih menimbulkan pesona. Simple, yet nice, begitulah, mengikut penilaian Firdaus, seperti yang pernah diucapkannya pertama kali berjumpa dulu. Memang Shasha nampak manis sekali. Dan Firdaus tersenyum apabila membuat perbandingan di antara dua gadis berumur tiga puluhan yang sedang duduk gelisah di depannya itu. Yang mana satu pilihan kalbu, nyanyinya di dalam hati, mengajuk lagu allahyarham Tan Sri P. Ramlee.

“Yang kau dari tadi senyummu tak mahu hilang, mengapa?” Tanya Shasha, menyatakan rasa jengkelnya, kemudian. Matanya seakan-akan berdelik. Namun dalam hati tanpa tahunya, Firdaus sempat bilang: Nona manis, bukalah matamu sebesar-besarnya, belum bisa megecutkan hatiku, apalagi untuk menaklukkan aku…! Aku sudah biasa menghadapi perempuan yang seribu kali lebih galak darimu…

Entah mengapa pertemuan   mereka berdua ini selalu saja seperti ada pertembungan. Sentiasa panas. Seperti pertemuan dua orang yang sedang bermusuhan. Arafat dan Sharon juga rasanya akan lebih berlembut bila bersua muka. Tapi, tidak untuk Shasha dan Firdaus. Kedua-duanya seolah-olah ingin membuktikan keangkuhan diri masing-masing. Untung sekali XiberTech Café tempat mereka bertemu itu situasinya ceria dan riang. Dari kaca tv, MTV sedang diputarkan. Firdaus turut mengangguk-anggukkan kepalanya mengikut rentak lagu Can’t Get You Out Of My Head yang kebetulan amat digemarinya. Mereka bertiga diam. Lama kemudian baru kedengaran suara Firdaus memecah kesunyian.

“Izinkan aku berterus-terang dengan pendapatku sekarang,” ujar Firdaus, setelah menghidupkan rokoknya sebatang lagi. Wajahnya mula serius. Asyik sekali dia dengan rokoknya itu. Kepulan-kepulan asap, keluar secara perlahan dari mulut dan kedua lubang hidungnya. Seperti naga…

“Boleh kau tidak merokok?”  Nora tiba-tiba bersuara sambil tangannya cuba  mengipas asap yang menerjah ke wajahnya. Matanya turut berdelik. Nampak seperti mata burung hantu, bisik hati kecil Firdaus.

Sorry,” jawabnya pendek. “This is a smoking cafe, so, I’ll smoke as I please,” sambungnya lagi, tegas. Siapa kamu yang berani cuba-cuba untuk mengatur aku? Bisiknya lagi  di dalam hati. Firdaus tetap dengan rokoknya. Asyik. Nora hanya dapat mencebikkan bibirnya, jengkel. Namun, Firdaus tidak memperdulikannya.

“Apa yang aku tahu, mengikut satu statistik yang tidak rasmi, banyak perempuan-perempuan berkarier lepasan UBD yang gagal untuk berkahwin hingga sekarang. Masaalahnya, umur mereka kini, ada yang sudah melebihi tiga puluh,” terang Firdaus, dengan wajah yang nampak semakin serius. Namun, dia tetap terus asyik dengan rokok kreteknya. Memang dia kelihatan menikmati karbon monoksida tersebut. Shasha cuma diam memerhatikannya. Dan dalam hati dia berkata: Begini caramu merokok, paru-parumu pasti seperti peparu yang digoreng hangus pembantu rumahku!

Namun, Firdaus kelihatannya tetap tak acuh. Dan matanya sempat melirik kepada si burung hantu di sebelah Shasha. Astaga, sudah berubah menjadi monyet dia sekarang dengan wajah muramnya! Firdaus mula tersenyum lagi. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam lalu kemudian menghembuskan kepulan-kepulan asapnya kepada monyet di depannya itu. Lihatlah, kalau-kalau dia akan jadi beruang pula…

“Soalnya, mengikut hematku, kebanyakan kamu sewaktu menjadi siswi di UBD, berlagak  sombong, dan tidak ingin untuk dihampiri. Ya, tentu saja dengan alasan, ingin menumpukan seluruh perhatian kepada pelajaran. Benar kan?” Pantas timbul pertanyaannya, hingga mengejutkan Shasha.

“Kurasa, kau benar,” jawabnya pendek, terpaksa.

“Maaf Shasha, aku akan berkata apa adanya. Dan kuharap u tahu, bahawa tidak ada maksudku sekelumit pun untuk menyinggung perasaanmu,” tambahnya lagi kemudian. Shasha cuma diam.

“Apa yang kutahu, semasa di UBD dulu, banyak di antara siswinya, yang sombongnya allahurabbi. Mereka tidak mudah didekati. Malah, ada sesetengahnya, langsung tidak ingin untuk didekati. Apalagi kalau lelaki yang cuba mendekati itu cuma seorang kerani biasa,” sambungnya kemudian. Dia berhenti sebentar di sini, melihat reaksi Shasha. Namun gadis tersebut, seperti awalnya, tetap diam.

Firdaus juga  kemudiannya diam. Agak lama diamnya kali ini. Dan dia tidak membuang peluang untuk melahap rokok kreteknya. Asyik sekali dia kelihatannya dengan rokoknya. Peparu itu, bukan hanya hangus, tapi kini pasti telah rentung, bisik hati kecil Shasha.

Dan monyet yang duduk di sebelah Shasha juga diam. Memang dia tidak nampak berminat untuk ikut serta di dalam perbicaraan mereka. Dan terasa amat lama kemudian, baru Firdaus menyambung kata-katanya. Agak perlahan suaranya kali ini.

“Tapi, di dalam kamu menolak kehadiran laki-laki biasa yang bukan dari jenis lelaki impian, dengan alasan untuk studi tadi, pertahanan kamu pastinya mudah goyah apabila  muncul seseorang lelaki lain, yang berstatus siswa dari luar negeri. Kamu biasanya tidak akan menolak huluran kasih-sayang yang berbau cinta dari mereka. Dan dapat kubayangkan senyum ibubapa kamu yang pasti sampai ketelinga, memikirkan akan kemungkinan bermenantukan seseorang yang berkelulusan dari luar negeri,” ucap Firdaus lagi. Shasha sendiri sudah tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya memandang wajah bersahaja Firdaus. Sesungguhnya, dia tidak tahu bagaimana harus membalas kata-kata Firdaus itu.

“Dalam hal ini, sikap orangtua sebegitu memang wajar, dan tidak dapat dipersalahkan. Tidak ada orangtua yang akan sanggup menyediakan neraka untuk anaknya,” ujar Firdaus dengan penuh yakin. Shasha mengiakannya.

“Itu, memang kalau kebetulan kamu bernasib baik didekati oleh student dari, say, UK. Soalnya, apakah nasib baik itu akan terjadi untuk semua orang, seperti yang sering kita harap-harapkan?” Sebuah pertanyaan timbul dari mulutnya. Dan Firdaus memang tidak bermaksud untuk meminta Shasha menjawabnya.

“Kita semua tahu dengan pasti akan kemungkinan tersebut. Tapi, berbalik kepada sikap kita sendiri yang amat suka menidakkan kebenaran. Bukankah pada kebiasaannya seseorang lelaki itu akan tertarik kepada gadis-gadis yang beberapa tahun  lebih muda dari dirinya sendiri? Pastinya pada situasi yang normal, seperti orang yang makan ulam, maka pucuk-pucuk mudalah yang akan dicari. Dan di dalam soal untuk mencari bakal pasangan hidup, latar-belakang pendidikan formal gadis-gadis pilihan tidaklah selamanya akan menjadi kayu pengukur, sebagai syarat utama untuk memilih calon isteri. Maka, dalam keadaan diri kamu yang sudah merasa punya kepak gagah, mandiri dan dominan, banyak lelaki Brunei yang kecut untuk mendekati kamu. Dan apabila tiba-tiba saja kamu tersingkir, gagal untuk meraih cinta jejaka, maka di sinilah masaalah itu selalunya akan bermula.”

Bicara Firdaus terhenti seketika di sini. Dan pandangan Firdaus menuju tepat ke anak-mata Shasha. Namun gadis tersebut seperti tadi, cuma berdiam diri. Suasana malam itu agak sepi, lebih-lebih lagi café tersebut, memang ketandusan pelanggan. Memangpun begitu keadaannya dihampir keseluruhan café dan restoran yang berselerak di sekitar Bandar Seri Begawan. Jumlah café dan restoran serta warung-warung haram  terasa seolah-olah lebih banyak dari pelanggan yang perlu mencari makanan di luar, akibat dari merasa muak dengan masakan isteri atau ibu di rumah!

“Umur di atas dua puluh enam bagi perempuan-perempuan di Brunei ketika ini, maaf, bagiku sudah termasuk dalam kategori berumur lanjut, lebih-lebih lagi bagi kamu yang mempunyai ijazah. Dan sikap dominan perempuan-perempuan Brunei, sudah pasti akan lebih memburukkan suasana, sama ada kita mahu mengakuinya  ataupun tidak. Banyak daripada perempuan-perempuan kita di Brunei ini, terutama yang berijazah seperti u umpamanya, bersikap terlalu agresif. Sedikit kasar, dan mungkin  juga hidup penuh dengan keangkuhan. Dan keadaan itu pasti akan menyebabkan semakin mengecilnya kemungkinan untuk kamu mendapatkan jodoh yang sesuai. Idealnya, lelaki dalam lingkungan umur dua puluh sembilan hingga tiga puluh lima yang dicari. Soalnya, berapa banyakkah jumlah lelaki yang available dari lingkungan umur tersebut, yang juga berijazah seperti kamu? Dan kalau memang adapun, berapa banyak pula dari mereka yang masih bujang? U tau pasti kan, pemuda-pemuda Brunei, majoritinya kawin muda. Jadi, kalau memang ada yang berkenan di hati, kalaupun bukan duda, kebiasaannya adalah suami orang.”

Shasha mula kelihatan gemas. Apa lagi Nora, yang kebetulan terbabit dengan cinta tiga segi, dengan suami orang, seperti yang baru diucapkan Firdaus sebentar tadi.  Namun, Firdaus tetap bersahaja dan dengan selamba terus asyik menghisap karbon monoksida dari rokok kreteknya!

“Tadi u bilang, orang-orang Brunei bodoh” ucap Firdaus seolah-olah menujukan pertanyaan kepada Shasha, memancing penjelasannya.

“Memang bodoh,” tegas suaranya menjawab. “apa pun alasannya, mengapa tidak ada yang berani untuk approach orang-orang seperti kami?” Tambahnya lagi, dengan pertanyaan juga. Firdaus cuma senyum. Senyuman yang paling lama sekali, mengikut Shasha. Menjengkelkan. Namun, seperti biasa, Firdaus tetap acuh tak acuh. Dan rokoknya itu….

“Tidak ada?” Tanyanya kemudian. “Lalu, aku yang berani mencuba untuk menghampirimu saat ini, u jelas menolak,” tambahnya kemudian. Jujur sekali nada suaranya. Dia tetap tersenyum. Tidak adapun riak marah kelihatan di wajahnya.

“Aku tidak menolakmu,” kata Shasha seolah-olah cuba memujuk.

U kata tidak menolak, tapi, soalnya, u juga tidak menerima. Bukankah secara tidak langsung, penolakkan  juga namanya itu?” Tukas Firdaus, tetap dengan senyumannya. Konyol, bisik hati kecil Shasha.

Dan aku pasti Shasha, penerimaanmu pasti jauh berbeza jika kebetulan aku memandu kereta berjenama, BMW umpamanya. Soalnya, aku hanya memandu Soluna yang entah berapa sen sangat harganya…!

2.10 pagi, 10 Jun 2002

.

< Shasha: Hai msih blum tdo?

< Firdaus: Blum lg, msih ngarang. U napa blum tdo lg? Ada sapa2 yg drindu? Hehehe..

< Shasha: Bru slesai surfing. U smpai jam brapa nulis?

< Firdaus: Tak tntu. Bla ada mood, kdng2 smpai pg. Can I cal u?

< Shasha: Apa hal? Nnti bnyk bil tpun yg u kna byar.

< Firdaus: Y do u hv 2 say dat? Mestikah smuanya dnilai dri segi duit?

< Shasha: M only joking, Sori. Ok, u cal me drmah, u tau my no kn?

< Firdaus: Yup. Me save my work dlu. 5 mins.

< Shasha: We can talk till 3, me kn tdo, esok kaja.

<Firdaus: K J

2.00 pagi, 11 November 2002

Berhenti bercakap pada pukul 3? Nyatanya, mereka bergayut di telefon hingga jam 6.30 pagi kelmarin! Ada saja topik yang mereka bicarakan. Dan sesekali sempat juga terselit sedikit ketegangan akibat dari beberapa perbenturan pendapat. Kedua-dua mereka bagai anjing dan kucing. Entahlah. Shasha terasa mereka seperti minyak dan api pula. Seolah-olah tak dapat hampir. Tak boleh bersama. Masing-masing bertegas untuk tidak mengalah. Namun, di atas segalanya, Shasha agak tertarik juga dengan sikap berterus terang Firdaus sebegitu. Keberaniannya mengeluarkan pendapat serta keupayaannya untuk  mempertahankan pendapat-pendapatnya itu. Dan pasti, dengan cepatnya pula dia berupaya menangkis setiap kritikan Shasha. One hell of a person…

Dan Shasha biarpun agak mengantuk keesokkan harinya, namun ada riak bahagia terpancar jelas di sebalik pandangan matanya. Dan butir-butir perbicaraan mereka tetap segar di dalam ingatan Shasha, sungguh mengasyikkan sekali. Dan awal-awal lagi Firdaus mengungkit hal yang sama. Soal yang padanya hanya berkisar kepada penolakan Shasha itu!

So, how is your day dear?” Tanya Firdaus sambil ketawa.

Sleepy,” jawab Shasha singkat. “Rasanya aku ingin tidur sewaktu berada di dalam kelas tadi. I’ve never done that before” sambungnya lagi kemudian.

“Tak pernah?” Tanya Firdaus keheranan. “Kehidupan u terlalu idealistik Shasha. Tanpa hura-hura. U tak merasa bosankah hidup dengan gaya stereotype begitu? Jadi, setiap hari u tidur tepat waktu, dan bangun pada masa yang sama setiap hari? Wow!” tambahnya lagi kemudian sambil ketawa.

U bilang u mengantuk, tapi sekarang masih sanggup  bersengkang mata untuk menelefon dan berceloteh denganku. Mengapa Shasha?”

“Aku sempat tidur selepas maghrib tadi. Aku bangun jam sebelas” jawabnya sambil ketawa kecil. “Tapi, kali ini, kita berhenti pada jam tiga, ok?” Tambahnya kemudian, dengan nada mengharap.

Oklah, u beritau saja nanti bila sampai masanya u nak masuk tidur. Aku memang sudah biasa berjaga begini. So, u sudah dapat hati u?”

Shasha semacam bungkam mendengar pertanyaan mendadak Firdaus itu. Dia benar-benar tidak tahu mahu berkata apa.

I’m sorry about last night Firdaus” katanya perlahan.

I’m sorry too Shasha. I’m a jerk…” balasnya kemudian. “Maaf kerana menggelar u frigid semalam. I shouldn’t have said that. I’m sorry, really am…” tambahnya lagi tak lama kemudian.

No, it’s okay. Maybe what you said last night is true. Maybe i’m frigid…”

No, you are not, Shasha. It’s just that, mungkin pada umur u saat ini, u sudah putus harapan, dan merasa segala-galanya sudah terlambat untuk u.

“Dan mungkin ada benarnya juga that I’m over confident, seperti apa yang kau ucapkan semalam.”

“Maafkan aku sekali lagi Shasha. Aku tak pernah bermaksud untuk menyakiti hati u” jelas Firdaus, dengan suara perlahan. Shasha cuma diam.

“Sejak pertemuan kita yang pertama dulu, aku merasa bahawa kita berdua asyik bertengkar saja. Masing-masing kita ternyata tidak mahu mengalah. U dengan keras-kepala u, dan aku dengan sikap arrogantku…” tambah Firdaus kemudian, jujur.

You’re being straight forward Firdaus, blunt. At least, aku tahu, kau bersikap jujur.

“Aku heran bila u tetap sudi menelefonku pagi ini. Aku benar-benar merasa yang perhubungan ini tidak akan membawa kita kemana Shasha” ujar Firdaus lagi.

“Firdaus, please understand, aku hanya meminta sedikit masa darimu. Bukan menolakmu, believe me please. Aku merasa hatiku tidak ada sekarang. Tapi, aku ingin kita terus bersahabat, semantara aku mendapatkan hatiku kembali…”

“Maaf Shasha. Aku tidak punya masa untuk itu. Terus terang aku ingin memberitahu u hal ini. Apabila aku bersetuju untuk menjumpai u beberapa hari yang lalu, awal-awal lagi aku sudah mengatakan pada Didi yang aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari hanya sebuah persahabatan.”

“Tapi, aku kan cuma minta sedikit masa untuk mendapatkan hatiku semula?”

“Di mana hatimu sekarang? Pada teman chattersmu?” Tanya Firdaus pantas.

Shasha tak mampu menjawabnya. Hatinya sememangnya merasa agak jengkel diperlakukan kasar Firdaus begitu. Tapi, entahlah… Shasha sebaliknya menghargai sikap terbuka Firdaus, walaupun bicaranya sentiasa bebas lepas. Straight forward. Blunt. Monyet!

I need someone to love Shasha. Seseorang yang dapat kupeluk dan kucium pada saat bahagiaku. Maybe, a shoulder to cry-on…,” ucapnya jujur.

You’re blunt,” tukas Shasha.

Blunt…, ya, mungkin saja Shasha. Tapi, kalau saja u tahu mengapa, alangkah akan berbezanya nada pengucapanmu. Pada umur yang sudah empat puluh dua, ditambah dengan kesakitanku sejak empat tahun yang lalu, masa untuk bercinta untukku, sudah tidak ada lagi. Aku takut semuanya akan terlambat… Haruskah aku berterus-terang padanya? Ah, aku bukannya ingin untuk menagih simpati…

“Sekurang-kurangnya aku bukan dari jenis munafik Shasha. But, sex is out of the picture. Not before marriage. Do it, and you’re gone.” Jelasnya lagi. Tegas.

So, forget me…,” pinta Firdaus kemudian, mengejutkan Shasha.

No! I won’t!” Jawab Shasha pendek, hampir berteriak.

Kini baru aku merasa telah mensia-siakan masa remajaku. Dalam usia yang sudah menjangkau tiga puluh lima ini, aku belumpun pernah merasakan indahnya hidup berkasih. Aku terlalu sibuk dengan studiku. Terlalu asyik memburu cita-cita, hingga langsung tidak memberi ruang untuk bunga-bunga kasih berputik dan kemudian meranum. Jadilah aku seperti sekuntum bunga hutan yang kembang mekar, namun tak terusik walau oleh seekor kumbang pun. Dan bunga mekar itu kini terasa semakin tersisih, hampir layu dan menunduk kepada fitrah alami.

Namun Firdaus tetap juga dengan sifat riangnya. Penolakkanku terhadap huluran cintanya tidak sedikitpun mengecewakannya. Tidak pernahkah dia bersedih, sempat hati kecil Shasha berbisik.

So, sukan apa yang kau ceburi sewaktu di bangku sekolah?” Tanya Shasha mengalih tajuk perbualan mereka malam tersebut.

“Banyak,” jawabnya ringkas. “Aku mewakili sekolah dalam tiga sukan utama, bolasepak, hoki dan ragbi,” tambahnya lagi, dengan nada bangga.

“Ragbi?” Tanya Shasha, agak terkejut. Badanmu bukannya besar sangat…

“Ya, ragbi. Aku malah telah terpilih untuk  mewakili sekolah-sekolah Brunei dalam satu lawatan ragbi ke Singapura dulu. Dan aku juga ketua pasukan ragbi PTE .”

“Patutlah kau kelihatan ganas…,” pintas Shasha, ketawa.

“Ganas?” Balas Firdaus, heran. “U tidak tahu apa erti ganas sebetulnya Shasha,”  tambahnya dengan ketawa.

“Tunggulah bila u nanti lemas dalam pelukanku, then, u akan tahu apa erti ganas….”

“Eeeeeeerk…,” balas spontan Shasha, seakan-akan ingin muntah. Namun dia tak mampu untuk menahan ketawanya. “Nanti, kukarate lehermu yang sakit itu, biar cepat mati…,” tambahnya lagi kemudian, tetap dengan ketawanya. Firdaus turut ketawa mendengarkannya.

“Dan, aku juga pernah bermain hoki untuk pasukan Kebangsaan,” tambahnya tanpa dipinta.

“Kau benar-benar aktif bersukan,” puji Shasha.

Sports is part of my life,” pengakuan ikhlas Firdaus. Namun tiada nada sombong di suaranya bila mengucapkan itu.

You play badminton?” Tanya Shahsha kemudian.

A bit,” jawabnya pantas. “Tapi, aku rasanya lebih gemar kepada jenis-jenis sukan yang berbentuk fisikal, yang ada body contact” tambahnya lagi.  “Tunggu sebentar…,” pohonnya kemudian.

Dan sudah setentunya Shasha tahu benar untuk apa permohonan Firdaus sebentar tadi… Pasti beruk itu sebentar lagi akan bertukar menjadi naga…

“Hai…” sapanya beberapa minit kemudian, lebih bersemangat.

“Buat apa tadi? Merokok?” Tebak Shasha.

“Tepat…,” jawabnya sambil ketawa. “Sepuluh markah penuh untuk anda…,” tambahnya lagi, menyakitkan hati Shasha.

“Tak dapatkah kau berhenti merokok barang sehari?” Tanyanya lirih.

“Setiap hari aku berhenti merokok,” jawabnya bersahaja. “Sewaktu tidur,” tambahnya kemudian. Herannya kali ini, ketawa ramahnya tiba-tiba tak kedengaran. Hilang. Mereka berdua serentak diam. Lama kemudian baru kedengaran suaranya semula.

“Sewaktu di Sixth Form dulu, ada seorang gadis yang benar-benar suka padaku,” kata Firdaus memulakan cerita, tanpa dipinta. “Dia cantik dan cukup menawan. A very sweet girl. Walau nampak pemarah, tapi, aku benar-benar senang padanya,” sambung Firdaus, dengan suara yang agak perlahan.

What happened then?” Tanya Shasha, tak mampu menyembunyikan keingin-tahuannya.

“Waktu itu, di dalam kelas, tidak pernah sekalipun dia mengizinkan penuntut lelaki lain untuk duduk di sebelahnya, kecuali aku. Aku tidak akan pernah melupakan wajahnya. Sebuah wajah melankolis. Wajah yang mengandung hiba. Mirip Lenny Marlina.”

“Lenny Marlina?” Pantas tanya Shasha. “Kulihat dia main di dalam drama Permata Hatiku, nampak  sudah  kerepot dia sekarang…,” tambahnya lagi dengan ketawa.

“Lenny Marlina waktu mudalah, monyet,” balas Firdaus, jengkel. Namun dia juga turut ketawa kemudiannya.

“Satu pagi, sebelum kelas bermula, teman baikku, Abd. Wahab, datang dan memberi khabar betapa gadis itu benar-benar menyukai aku. Dan dia juga bilang bahawa Rosni, nama gadis itu, tidak suka tabiatku yang kuat merokok.” Dan  bicara Firdaus, lama terhenti di sini.

It’s a normal thing to say…,” pintas Shasha memecah kesunyian.

“Ketika itu memang aku merokok sebanyak empat bungkus sehari. Dan aku benar-benar marah mendengar ucapannya melalui teman baikku itu. Saat itu Rosni cuma duduk bersendirian. Dan aku lalu bilang: Rokok adalah temanku yang paling setia, yang aku tahu, tidak akan pernah meninggalkan aku sampai bila-bila. Kalau memang tidak suka, kataku, saat itu dengan suara yang agak keras: Boleh berhembus!”

“Kau tega berkata begitu Firdaus?” Tanya Shasha, cemas.

“Ya,” jawabnya pendek. “Apa yang terjadi kemudian, Rosni menangis, lalu terus  pulang. Dan esoknya, dia tidak pernah datang ke sekolah lagi. Dia nekat untuk berhenti,” tambahnya. Kekesalan jelas kedengaran pada nada suaranya.

“Aku menyesal sekali Shasha. Entah, mengapa aku begitu tega berkata sekasar itu pada seseorang yang terlalu baik padaku…”

“Itulah…, you’re too blunt” ujar Shasha.

“Sampai saat ini, aku tidak pernah tahu, di mana Rosni berada sekarang. Aku merasa berdosa padanya. Sebelum menutup mata, aku ingin sekali untuk meminta maaf padanya…”

“Kau dengan cara merokokmu itu, apa sememangnya kau tidak pernah  takut pada penyakit?” Tanya Shasha mengalih tajuk perbualan.

“Atau, mungkin lebih baik u bertanya seperti ini Shasha: Tidakkah kau takut mati akibat serangan barah?” Kata Firdaus pantas. Shasha bungkam.

“Terus terang Shasha, mati padaku adalah satu kepastian. Suka atau tidak, ianya pasti akan datang kepada kita. Kita terlalu kerdil untuk mengetahui rencana Allah terhadap setiap makhluknya. Namun, aku penuh yakin pada qadak dan qadar Allah. Dan aku samasekali tidak akan mati disebabkan oleh rokok. Aku akan cuma akan mati jika  memang ajalku sudah sampai, merokok ataupun tidak. Soal barah pula, ada kes seorang bayi yang telah dilahirkan menghidapi penyakit tersebut, walaupun ibubapanya bukan perokok,” jawabnya bersahaja.

“Ya, mungkin one in a million,” tukas Shasha, cuba mengajak Firdaus kembali berpijak ke alam nyata. Firdaus senyum. Sebuah senyuman yang manis sekali mengikut penilaian Shasha. Sayang, senyummu itu sering tersembunyi di- sebalik sikap arrogantmu itu

“Bercakap tentang mati, sebetulnya aku sudah mati beberapa kali sebelum ini Shasha,” jelasnya singkat, namun cukup untuk mengejutkan lamunan Shasha sebentar tadi. Firdaus hanya tersenyum. Dan matanya juga ikut sama tersenyum.

“Maksudmu?” Tanya Shasha kemudian meminta kepastian.

“Pada umurku sembilan tahun, aku sudah mati akibat lemas ketika ikut mandi sungai di sekolah kami, di Pusar Ulak. Aku sudah pun pernah merasakan pergi ke suatu tempat yang asing tersebut. Sebuah tempat yang maha luas, yang seolah-olah hanya ada langit dan awan sahaja. Sulit untukku menggambarkan tempat tersebut sebetulnya. Luas dan putih bersih, tanpa ada satu benda yang lain pun. Tidak ada pokok dan tidak ada burung, mahupun kehidupan yang lain.” Shasha hanya terlompong mendengarkannya.

“Pada saat-saat awal ketika tahu bahawa aku bakal lemas, memang aku terkapai-kapai cuba mendapatkan pertolongan, namun aku tetap terus tenggelam. Memang menakutkan sekali perasaanku ketika itu. Tapi, entah bagaimana tiba-tiba ketakutanku itu menghilang dan bertukar pula kepada rasa sedih kerana sedar bahawa aku akan meninggalkan orang-orang tersayang, emak, ayah dan adik beradik yang lain. Dan ketika telah tenggelam jauh  di dalam sungai tersebut, aku tiba-tiba saja aku seperti terbangun dari sebuah tidur yang panjang dan di dalam air itu aku dapat melihat segala-galanya dengan cukup jelas. Memang aku sudah tenggelam saat itu dan terasa pula seperti   sedang terapung-apung dan sedang melayang-layang seolah-olah sedang berada di ruang udara. Sungguh indah pemandangan yang kulihat itu, namun di mana tempatnya, sampai kini pun aku tidak tahu. Mungkin aku tidak akan pernah tahu.”

“Apa yang terjadi kemudiannya Firdaus?” Pintas Shasha yang sudah meremang bulu tengkoknya.

“Lama kemudian, aku terjaga, seolah-olah baru bangun dan dikejutkan dari sebuah mimpi yang indah. Teman-temanku mengelilingi aku yang terbaring lesu. Teman sekelasku, Ampuan Ahad yang telah berjaya menyelamatkan aku. Mengikut mereka, agak lama juga baru aku dapat disedarkan dari keadaan lemasku itu. Namun yang pasti ketika mati itu, aku tidak terasa sakit sedikitpun. Yang ada, seperti kataku tadi, cuma kesedihan kerana akan meninggalkan orang-orang yang tersayang…”  tambah Firdaus lagi, sambil menyalakan sebatang rokoknya lagi. Shasha keputusan bicara, bungkam tak mampu bersuara.

“Pada umurku dua tahun, aku telah dilanggar oleh ayahku sendiri, ketika beliau mengundurkan kereta dan tak perasaan langsung bahawa aku sedang berada di belakangnya. Saat tersebut rumah kami di kampung Padang Lama, tapak di mana bangunan Alat-Alat Kebesaran Diraja berada sekarang ini. Dan rumahsakit betul-betul berada di belakang rumah kami, jadi Malaikal Maut pun nampaknya sedang berada jauh ketika itu.” Firdaus tersenyum dan begitu juga Shasha kemudiannya. Tahu-tahu saja kau Malaikal maut sedang berada jauh ketika itu, Firdaus, Firdaus…

“Dan aku juga pernah pengsan terkena kejutan letrik ketika berumur kira-kira tujuh tahun” tambahnya singkat.

“Memang kalau belum ajal belum sampai, apa pun yang terjadi belum dapat mematikan kita” ujar Shasha pendek kemudian.

“Begitulah kenyataannya Shasha. Aku bersetuju dengan pendapat u tadi. Pada umurku 20 tahun dulu, aku gemar naik motor dan pernah terlibat dalam satu kemalangan dengan kereta. Motorku terperesok di bawah kereta tersebut dan aku terhumban lebih dua puluh kaki. Yang lebih dahsyat lagi, badanku melambung lebih sepuluh kaki tingginya, dan  aku landing kepala dulu. Syukur aku kerana memang ahli kelab jimnastik sewaktu di SOAS, dan aku sempat membuat summersault, dan landing selamat di jalanraya pada bahagian bahu. Aku cuma calar di dua telapak tangan dan kedua sikuku terkupas kulitnya sedikit. Amat menakutkan sekali pengalaman tersebut.”

“Jadi, sakit lehermu itu, akibat dari kemalangan tersebutlah?” Pintas Shasha dengan sebuah pertanyaan.

“Mungkin juga Shasha. Pokoknya, kesakitan itu hanya kurasa beberapa tahun kebelakangan ini. Sebetulnya selepas kemalangan itu, aku langsung tidak ke rumahsakit.”

“Itulah, kau hero hindustan masa itu kan?” Kata Shasha berseloroh. Firdaus turut ketawa mendengarnya.

“Dan kau masih gemar menunggang motor hingga saat ini…”  

“Naik motor best!” Katanya ketawa. Ramah sekali ketawanya kedengaran di telinga Shasha.

“Jadi, sekarang sukan apa yang kau ceburi?” Tanya Shasha, lagi cuba mengalih perbicaraan.

“Mengejar perempuan…!” jawabnya pantas, menyakitkan hati Shasha. Kaumemang betul-betul seekor beruk, bisik hati kecilnya.

“Jadi, sekarang kau masih merokok empat bungkus sehari?

“Sekarang sudah tidak lagi. Cuma sebungkus, kadang-kadang dua,” jawabnya jujur.

“Bagaimana nanti jika cukai import rokok benar-benar dinaikkan kerajaan, empat ratus peratus?”

“Harga rokok pasti akan berlipat-ganda. Jadi, aku akan mempastikan untuk pergi ke Limbang atau ke Miri setiap minggu, mendapatkan bekalanku,” jawabnya bersahaja. “Dan pada waktu yang sama, mungkin aku akan menjadikan Limbang dan Miri sebagai tempat membeli-belah keperluan seharianku.”  Tegas nada suaranya.

“Dalam erti kata yang lain, kau akan turut menyertai komplot untuk menjejaskan ekonomi negara,” balas Shasha, seolah-olah mahu membidas ucapan Firdaus.

“Ekonomi negara bukan urusanku. Itu kerja menteri kita yang gajinya empat puluh ribu. Yang aku fikirkan, ialah mendapatkan rokok dengan harga yang paling murah. U tau harga sebungkus rokok seperti yang kuhisap ini di Miri? Hanya lapan puluh sen sebungkus, sedangkan di sini, harganya dua ringgit.”

Hidden costnya?” Tanya Shasha.

“Alah, berapa sangatlah kos minyak untuk ke Kuala Lurah, Shasha…”

“Tapi, walau apapun jua, kau pasti akan menyumbang kepada keruntuhan ekonomi negara kita.”

“Aku untuk setakat ini, hanya akan membeli rokok. Sekurang-kurangnya aku tidak ikut bersubahat merelakan kerajaan mengutip wang dari kegiatan yang haram.”

“Haram? Kau terlalu mengada-ada Firdaus…”

“Mengada-ada apanya Shasha? Bukankah rokok itu sudah dihukumkan haram? Jadi, apa pula hukumnya kerajaan memungut cukai dari sesuatu benda yang haram, untuk kemudian disalurkan kepada kita-kita ini yang menerima gaji darinya?” Bersemangat dia berucap.

“Entahlah Firdaus. Aku kurang arif dalam hal ini,” balas Shasha, tak bernafsu. Namanya beruk itu, beruk juga…

Firdaus kemudian ketawa. Dan Shasha juga kemudiannya ikut ketawa sama.

“Besar kemungkinan aku akan berkursus di Singapura pada bulan depan, itupun jika permohonanku di luluskan” kata Shasha tak lama kemudian memecah kesunyian.

“Berapa lama u nanti di sana?” Tanya Firdaus, seakan tak bernafsu.

“Lima bulan. Kursus tersebut bermula pada 7 Julai nanti, dan berakhir pada 30 November. Aku akan pulang beberapa hari sebelum Hari Raya.”

We’re only together a short time, and suddenly, you are gone…”

I’m coming back, okay? After all, it’s only five months” jelas Shasha bersemangat.

Just promise me one thing Shasha…” balas Firdaus semacam tak bernafsu.

What is it?” Tanya Shasha tanpa sabar.

Promise me that, we will call each other every alternate days…” jelas Firdaus dengan nada perlahan.

“Kau tak takut duitmu habis nanti?” Usik Shasha dengan manja.

“Ada duit, aku calllah, tak ada duit, duduk diam-diam di rumah” balas Firdaus, dengan ketawa.

9.30 pagi, 5 Disember 2002

Namun janji tersebut rupanya tidak tertunai lama. Entah mengapa tiba-tiba saja Shasha merasa seakan-akan jengkel menerima panggilan telefon dari Firdaus, betapapun ada sedikit kerinduan Shasha untuk mendengar celotehnya. Memang tidak ada hal penting yang akan dibicarakan Firdaus, selain dari menyatakan rasa rindunya untuk mendengar suara Shasha. Itulah barangkali puncanya. Shasha sebetulnya tidak mahu Firdaus menghabiskan duitnya membuat panggilan jauh, hanya untuk menyatakan perasaan rindunya. Dan tiba-tiba terasa kelopak matanya panas. Shasha tidak dapat menahan hiba mengenang sms Firdaus di suatu hari, pada saat dia sedang sibuk bertugas: If u r not 2 bz, pls cal me. Urgent!

Shasha kelam-kabut membaca pesanan tersebut, lalu terus menghubungi Firdaus melalui hpnya.

Yes? What happened?” Tanyanya, cemas.

Actually, nothing…” jawabnya selamba. “I just want to tell you, I missed your sweet voice…” tambahnya dengan derai ketawa.

“Monyet…” balas Shasha, yang juga tak mampu untuk menahan ketawanya.

Rindu… Entah mengapa Shasha semacam benci mendengar perkataan tersebut. Fobia, mungkin…

Dan itulah juga yang sering di ucapkan Firdaus kepadanya ketika membuat panggilan ke Singapura dulu. Rasa rindunya… Dan aku pula, sering mengatakan ingin mengkarate lehernya yang sakit, supaya cepat mati… Supaya dia cepat mati… Cepat mati…

Shasha menyapu matanya yang kini sudah digenangi airmata. Dia memandangi wajah Nora yang sering dipanggil Firdaus monyet itu. Memang antara Firdaus dan Nora selalu tidak pernah aman berdua. Ada saja yang tidak kena di antara mereka. Nora benci bila Firdaus merokok, lebih-lebih lagi apabila asap rokok dihembuskan beruk itu ke wajahnya. Yang pasti menurut Shasha; yang seekor adalah beruk, dan yang seekor lagi, monyet. Aku sendiri sering dipanggil beruk itu, frigid. Benarkah aku frigid?

Nora tidak banyak bicara hari itu. Memang sejak kelmarin dia diam, tidak seperti selalunya, sebagaimana Nora yang benar-benar kukenal. Dia turut menyambut kepulanganku di lapangan terbang petang semalam. Dan dia kemudiannya bersetuju untuk menemaniku di rumah sepanjang malam.

“Aku sedikit kasar pada Firdaus beberapa minggu sesudah aku di sana. Aku rimas dengan perhatiannya yang kurasa terlalu berlebihan. Dia pasti akan membuat panggilan padaku setiap dua hari. Tidak ada sesuatu yang pasti di bicarakannya, kecuali memberitahu aku, rasa rindunya pada suaraku. Itulah yang membuat aku marah. Kurasa, dia hanya membuang waktu dan lebih-lebih lagi, duitnya. Aku samasekali tidak  pernah bermaksud untuk menyakiti hatinya,” kata Shasha dengan suara agak tertekan. Ketara sekali betapa dia berusaha untuk menahan rasa hibanya. Dia membersihkan daun-daun kering yang jatuh dari sepohon bunga mawar yang nampak baru ditanam. Dan bunga mawar tersebut kelihatan sudah mula meranum. Daun-daunnya nampak hijau dan lebat. Nora hanya diam, tak membalas kata-kata Shasha. Tapi, pandangannya tepat ke wajah Shasha yang nampak sedikit pucat.

“Sempat dia berjumpa Rosni?” Tanya Shasha tiba-tiba.

“Kurasa, sempat. Didi, kebetulan kenal baik dengan Rosni.”

“Hajatnya untuk memohon maaf nyata telah terlaksana, syukurlah,” balas Shasha. Ada rasa kepuasan  pada nada suaranya.

“Sebetulnya, masih ada dua permintaan Firdaus yang belum kutunaikan. Permintaannya kira-kira enam minggu lalu, setelah dua bulan kamu terputus hubungan.”

“Apa dia?” Tanya Shasha. Kelihatan dia benar-benar tidak sabar untuk mengetahui permintaannya itu.

“Pertama, dia  berpesan, jika kau sudah berada di sini, untuk memberitahumu, betapa dia akan tetap terus merindui suaramu, di manapun dia berada…,” perlahan kata-kata itu keluar dari mulut Nora, yang sudah tidak mampu menahan titisan airmatanya. Dan kelopak mata Shasha juga kini sudah turut berkaca semula.

“Itulah yang selalu dikatakannya bila membuat panggilan jauh padaku Nora. Rindu untuk mendengar suaraku…,”  ulang Shasha lagi dengan suara yang agak perlahan. “Lalu, apa permintaannya yang kedua?”

“Dia meminta aku untuk menyerahkan surat ini kepadamu, jam sepuluh pagi, hari kedua sesudah kau berada di Brunei, ertinya, hari ini,” kata Nora perlahan, dengan deraian airmata yang sudah tidak dapat ditahannya lagi.

Terketar-ketar Shasha mengambil surat Firdaus dari tangan Nora di-seberang sana. Dia seperti tahu saja pada waktu yang ditetapkannya, aku akan berada di sisinya.

“Apa pendapatmu Nora? Haruskah aku membaca suratnya ini, sekarang?” Tanya Shasha, sekadar mengharap satu kepastian.

“Asal kau tidak pengsan lagi untuk kali ketiga…,” balasnya singkat, mengingatkan keadaan Shasha apabila berita tentang Firdaus dikhabarkan kepadanya selepas makan semalam. Berita yang terpaksa juga dikhabarkan kepadanya, apabila Shasha bersikeras benar untuk membuat panggilan telefon, kepada beruk yang ingin diberikan hati, yang sudah didapatkannya semula. Ternyata Shasha telah terlambat dua minggu…

“Kalau aku pengsan, di sana kan ada dua orang abangku,” katanya kemudian, sambil jejari lentiknya ditudingkan kearah di mana kedua abangnya menunggu. Dia memaksa sebuah senyum untuk tersungging di bibirnya.

“Suka hatimulah…,” balas Nora, lembut.

Dan berhati-hati sekali Shasha merobek sampul surat A6 yang tertulis cantik namanya itu.

Dan memang benar pun jangkaan Nora. Shasha pengsan lagi. Tubuhnya yang sejak tadi kelihatan lemah,  rebah dengan gontai, sambil tangannya tetap erat memeluk batu nisan Firdaus yang diam dan kaku.

One Response to “Pada Umur Tiga Puluh Lima”

  1. Craig M. 05/03/2010 at 2:40 pm #

    That is definitely good to now finally look for a web sites where the blogger absolutely understands what he is talking about.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: