Kita Orang-Orang Munafik

5 Jun
Baca Puisi Kembara Merdeka 2008

Baca Puisi Kembara Merdeka 2008

(demi kasihku untuk anak-bangsa)

.

.

sudah pernah kukhabarkan berita ini

kepada kawan juga kepada lawan:

betapa hidup ini penuh pura-pura:

hanya untuk sesuap nasi…

lupakah kita pada janji Tuhan?

dunia ini sementara

sedang akhirat yang abadi…

– ah, mana kita mahu peduli semua itu

biar dunia akan lebur

dan kita turut hancur bersamanya!

(sedang pesta itu terasa asyik sekali iramanya

dan kita terus menari mengikut rentak sumbangnya…)

.

di siang ini:

“kuterdengar alunan merdu puisi

berlegar-legar tentang Aidil Fitri

pujian dan sanjungan silih berganti

dan kita jadi lupa diri

konon ingat Maha Pencipta

sedang kita tahu

itu cuma dusta…”

kita leka tertawa dan akan terus tertawa

sedang hati kecil sempat bertanya mengapa

yang mustahil kini terhidang di depan mata…

dan tetap terus bertanya

bertanya dan bertanya lagi

untuk mendapat jawaban yang tak pasti…

.

kun fa ya kun kata Tuhan

namun, kita tetap terus bertanya, mengapa?

qadak dan qadar kata pendita

namun, kita tetap terus bertanya, mengapa?

tak dipercaya namun nyata

mencari punca sebab keruntuhannya

– tarian kita mula longlai jadinya

– hilang rentak dan melodi yang semakin sayu…

.

wang berjuta kemana lesapnya?

pembangunan pesat tujuannya kemana?

Pak Haji hilang ketayap

Imam ampit 500 bungkam dan senyap

Range Rover untuknya

100 ribu mengekori sampai kemana-mana

rumah di puncak mahligai

kolam renang yang panas airnya

rasa bahagia dan terus ketawa

terasa dunia milik kita…!

.

namun ketawa itu kini tangisan alunannya:

debaran hati menanti

saat sudah tidak diperlukan lagi…

putaran roda yang pasti:

keatas dan kebawah…

silih berganti…

.

kejatuhan itu terjadi:

mata galak kini sudah memerah

bicara yang mula tak luput kalimah Allah…

tidur sudah terasa payah

mimpi yang gundah…

.

siapa di antara kita yang masih bisa ketawa?

bersama runtuhnya sebuah Empire

menjerumuskan satu peradaban

dan ketawa itu adalah dusta…

.

maka jadilah kita manusia munafiq:

– yang kononnya pasrah pada ketentuan Ilahi

sedang para malaikat leka bermunajat:

– melihat ketololan makhluk bernama manusia…

.

juga manusia agung di sekeliling baginda:

– tetap angguk mencecah dada…

berebutan mencium tangan sesamanya:

– kerana itulah nilai setia…

dan aku turut kalut jadinya…

.

“wahai kamu pemegang cokmar

Ulil Amri itu nanti mahu dihantar ke mana?

pintu neraka sedang luas terngangga…”

.

“wahai kamu para professor

Ulil Amri itu nanti betulkah kalimahnya?

neraka sedang menanti kita…”

.

sesuap nasi membuat kita menjadi manusia bacul

suara entah di mana sedang rintihan adalah irama nafas kita

Berakas pernah menjanjikan kesengsaraan

Gadong pernah jadi pemusnah harapan

Jerudong pernah jadi pemisah kasih sayang

dan Pangkalan Sibabau jadi saksi:

erti sebuah kebebasan…

.

dan kebebasan itulah membuat kita tersasar

durian runtuh membuat kita jadi manusia nanar

lupa diri…

lupa Tuhan…

lupa mati…

seperti kata Khairil, si binatang jalang:

ingin hidup seribu tahun lagi…!

.

mengapa harus ketawa?

sedang kita penyebab runtuhnya Empire

mulut terkunci mendapat anugerah aidil fitri

menjadi dedalu di siang hari

menjalari pucuk muda di kapal mewah

meratah gadis mentah yang khayal

dengan seribu janji material…

.

qisas Tuhan, Allahurabbi

mengajak kita merenung sejenak

keruntuhan yang diminta…

dan kita tetap angguk mencecah dada…!

.

kutahu bicaraku lancang dan kasar

Jerudong itu bukanlah penjara bagiku…

takutku pada Tuhan, Allahurabbi…

pelurumu memang tidak menggentarkan lagi…

berpantang mati sebelum ajal

membujur lalu melintang patah

tak kudokong si Jebat derhaka

tak kusokong si Tuah yang bongkak patuh

kerana aku adalah aku:

seorang musafir yang menumpang lalu…

.

kalau bicaraku lancang dan kasar

aku sesungguhnya anak kurang-ajar

dan kurang-ajar itu kuajarkan pula pada anak-anakku

supaya tetap ada manusia berani kurang-ajar

biar kamu hilang upaya berkurang-ajar…

kerana aku adalah aku

pemegang amanah ayahku:

“limpahkan taat setia pada Ulil Amri bertakhta…!”

(ampun beribu ampun,

sembah hamba Kebawah Duli Tuan Patik junjung diampun…)

.

.

Camar Putih

Sg. Tilong, 5 Januari 2001

foot note:

The edited version of this poem (Kita Orang-Orang Yang Mudah Alpa) was chosen by DBP’s Group to enter HM’s 62nd. Birthday celebration in Poetry Recital Competition 2008, which they won with a 99% score.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: