Archive | 9:14 am

Kita Orang-Orang Munafik

5 Jun
Baca Puisi Kembara Merdeka 2008

Baca Puisi Kembara Merdeka 2008

(demi kasihku untuk anak-bangsa)

.

.

sudah pernah kukhabarkan berita ini

kepada kawan juga kepada lawan:

betapa hidup ini penuh pura-pura:

hanya untuk sesuap nasi…

lupakah kita pada janji Tuhan?

dunia ini sementara

sedang akhirat yang abadi…

– ah, mana kita mahu peduli semua itu

biar dunia akan lebur

dan kita turut hancur bersamanya!

(sedang pesta itu terasa asyik sekali iramanya

dan kita terus menari mengikut rentak sumbangnya…)

.

di siang ini:

“kuterdengar alunan merdu puisi

berlegar-legar tentang Aidil Fitri

pujian dan sanjungan silih berganti

dan kita jadi lupa diri

konon ingat Maha Pencipta

sedang kita tahu

itu cuma dusta…”

kita leka tertawa dan akan terus tertawa

sedang hati kecil sempat bertanya mengapa

yang mustahil kini terhidang di depan mata…

dan tetap terus bertanya

bertanya dan bertanya lagi

untuk mendapat jawaban yang tak pasti…

.

kun fa ya kun kata Tuhan

namun, kita tetap terus bertanya, mengapa?

qadak dan qadar kata pendita

namun, kita tetap terus bertanya, mengapa?

tak dipercaya namun nyata

mencari punca sebab keruntuhannya

– tarian kita mula longlai jadinya

– hilang rentak dan melodi yang semakin sayu…

.

wang berjuta kemana lesapnya?

pembangunan pesat tujuannya kemana?

Pak Haji hilang ketayap

Imam ampit 500 bungkam dan senyap

Range Rover untuknya

100 ribu mengekori sampai kemana-mana

rumah di puncak mahligai

kolam renang yang panas airnya

rasa bahagia dan terus ketawa

terasa dunia milik kita…!

.

namun ketawa itu kini tangisan alunannya:

debaran hati menanti

saat sudah tidak diperlukan lagi…

putaran roda yang pasti:

keatas dan kebawah…

silih berganti…

.

kejatuhan itu terjadi:

mata galak kini sudah memerah

bicara yang mula tak luput kalimah Allah…

tidur sudah terasa payah

mimpi yang gundah…

.

siapa di antara kita yang masih bisa ketawa?

bersama runtuhnya sebuah Empire

menjerumuskan satu peradaban

dan ketawa itu adalah dusta…

.

maka jadilah kita manusia munafiq:

– yang kononnya pasrah pada ketentuan Ilahi

sedang para malaikat leka bermunajat:

– melihat ketololan makhluk bernama manusia…

.

juga manusia agung di sekeliling baginda:

– tetap angguk mencecah dada…

berebutan mencium tangan sesamanya:

– kerana itulah nilai setia…

dan aku turut kalut jadinya…

.

“wahai kamu pemegang cokmar

Ulil Amri itu nanti mahu dihantar ke mana?

pintu neraka sedang luas terngangga…”

.

“wahai kamu para professor

Ulil Amri itu nanti betulkah kalimahnya?

neraka sedang menanti kita…”

.

sesuap nasi membuat kita menjadi manusia bacul

suara entah di mana sedang rintihan adalah irama nafas kita

Berakas pernah menjanjikan kesengsaraan

Gadong pernah jadi pemusnah harapan

Jerudong pernah jadi pemisah kasih sayang

dan Pangkalan Sibabau jadi saksi:

erti sebuah kebebasan…

.

dan kebebasan itulah membuat kita tersasar

durian runtuh membuat kita jadi manusia nanar

lupa diri…

lupa Tuhan…

lupa mati…

seperti kata Khairil, si binatang jalang:

ingin hidup seribu tahun lagi…!

.

mengapa harus ketawa?

sedang kita penyebab runtuhnya Empire

mulut terkunci mendapat anugerah aidil fitri

menjadi dedalu di siang hari

menjalari pucuk muda di kapal mewah

meratah gadis mentah yang khayal

dengan seribu janji material…

.

qisas Tuhan, Allahurabbi

mengajak kita merenung sejenak

keruntuhan yang diminta…

dan kita tetap angguk mencecah dada…!

.

kutahu bicaraku lancang dan kasar

Jerudong itu bukanlah penjara bagiku…

takutku pada Tuhan, Allahurabbi…

pelurumu memang tidak menggentarkan lagi…

berpantang mati sebelum ajal

membujur lalu melintang patah

tak kudokong si Jebat derhaka

tak kusokong si Tuah yang bongkak patuh

kerana aku adalah aku:

seorang musafir yang menumpang lalu…

.

kalau bicaraku lancang dan kasar

aku sesungguhnya anak kurang-ajar

dan kurang-ajar itu kuajarkan pula pada anak-anakku

supaya tetap ada manusia berani kurang-ajar

biar kamu hilang upaya berkurang-ajar…

kerana aku adalah aku

pemegang amanah ayahku:

“limpahkan taat setia pada Ulil Amri bertakhta…!”

(ampun beribu ampun,

sembah hamba Kebawah Duli Tuan Patik junjung diampun…)

.

.

Camar Putih

Sg. Tilong, 5 Januari 2001

foot note:

The edited version of this poem (Kita Orang-Orang Yang Mudah Alpa) was chosen by DBP’s Group to enter HM’s 62nd. Birthday celebration in Poetry Recital Competition 2008, which they won with a 99% score.

The Man I Called BRUCE LEE

5 Jun
I honestly thinks that has has got 16 packs :)

I honestly thinks that he has got 16 packs 🙂

My Idol, the late Bruce Lee

My Idol, the late Bruce Lee

He came to my class beginning of April 2009, together with some candidates for 24th. May, 2009, Ujian Bahasa Melayu. He is about 5’8” tall and weight about 60kg – looking fit with 16 packs (including his rib bones ler…). I gave him that nick-name as he doesn’t have a christian name because having to remember all 60 or so students Chinese name could take ages for me. By the way, Bruce Lee has always been my idol.

He is the father of one of my ex-student who had passed the exam and currently doing her medical degree program in Ireland(?). His presence at first I thought was to register for another of his son/daughter taking the upcoming exam. I was wrong. He said he came to register himself.

Looking at how old he seems, I was shocked. He is 57 he said.

I told him that he should apply for an ‘oral’ exam instead. His honest answer was he did. And he continued telling me that the Immigration Officer told him to take this one exam first (and fail) before he can be considered to take the preferred ‘oral’ exam.

That Immigration Officer should be intelligent enough to judge any applicant ability to genuinely pass the exam – and not to waste the ‘one seat’ which could improve someone’s chance of changing his/her life dramatically having pass the exam and getting the sacred yellow i.c.

The indirect instruction for Bruce Lee to fail the exam first, before he can be considered to sit for the oral exam is really unnecessary and a waste of the Government time. By doing so, we are actually denying the possibility of another would be candidate to pass the exam earlier. Why should we give the chance to someone who will definitely fail the exam? The big question is: is this really what His Majesty’s Government want?

Bruce Lee is 57, okay, he is not sixty yet. Maybe the ‘rule’ says – oral exam are only for those over sixty. Fair enough. But, please somebody, answer my simple question: how old is Pehin Lau’s son when he was selected to sit for the oral exam last year? 51? 52?

Why the double standard?

The oral exam was introduced in order to be FAIR to those people who are less literate to pass the Malay test before they can be considered to be given the citizenship. This is part of  Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Muiz’zaddin Wad’daulah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam titah. To be FAIR and to uphold our ideology of ‘Adil Laila Bahagia’. Seems that ‘adil’ is only for certain quarter of people. Urghhh…!!!