
kita merasa sedih
membicarakan kematian itu
mengutuk musuh
dari bilik berhawa dingin.
.
belasungkawa silih berganti
bersama tibanya body-bag kaku
“dia seorang pahlawan…”
demikian katamu di depan sang balu.
.
nyawa yang mereka pertaruhkan
demi sebuah maruah. Keangkuhan
Jendral tak pernah tumpas
dan cerut yang tak lepas di bibir.
.
darah yang tersimbah
pencuci noda manusia tamak haloba
diiringi derai airmata mereka yang ditinggalkan
masa depan yang semakin kelam.
.
keperitan kesan perang itu memang tak terfikirkan
selagi kita tetap asyik keenakkan mendengar dentum mesingan
menghargai kematian dengan kiriman bunga-bunga
takziah dan mimik sedih yang terlalu dibuat-buat.
.
kematian itu memang sudah tidak ada untuk pejuang
bagi mereka hanya ada kehidupan di hari kemudian
tangisan anak yang kehilangan ayah
dan pertanyaan yang tak kan mungkin bisa terjawab.

Telanai, 12.49 pagi, 12 Jun 2003
Tags: Kematian, perang, war. death





Recent Comments